Wawancara & Tokoh
Beranda / Wawancara & Tokoh / Tokoh pahlawan yang nyaris terlupakan dari Lasingrang

Tokoh pahlawan yang nyaris terlupakan dari Lasingrang

Petta Lolo Lasinrang

Lasingrang  1865 – 1938

 

(Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional)

 

Tokoh pejuang sulawesi selatan yang gagah berani asal kabupaten Pinrang, Lasinrang lahir di Dolangan pada tahun 1856.

 

DETIK-DETIK GUGURNYA LETTU INF. URIP SANTOSO DALAM PELUKAN IBU PERTIWI

Berangkat dari literatur sejarahnya Lasinrang selama masa penjajahan tak bisa dikalahkan oleh Belanda, dialah pejuang yang memimpin para pemuda di kerajaan Sawitto melawan penjajah Belanda.

 

Lasinrang lahir sekitar tahun 1856, dikenal dengan nama Petta Lolo Lasinrang. Ia dilahirkan dari ibu yang seorang keturunan rakyat biasa, disebuah kota kecil bernama Dolangan, terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota Pinrang.

 

Ketika Lasinrang ke pammana (Wajo), ia memperlihatkan gerak gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu pammana yang kemudian menanyakan asal usul keturunannya. Akhirnya Lasinrang dididik oleh Datu pammana dan tumbuh menjadi seorang pemberani terutama dalam hal menghadapi peperangan.

Hama, Pupuk Mahal, dan Krisis Air: Derita Petani Prako yang Terlupakan

 

Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan² kecil di sekitar Sawitto untuk berperang. Apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti kerajaan itu akan berada di bawah kekuasaan Sawitto.

 

Dalam waktu singkat terkenallah Lasinrang ke seluruh pelosok negeri. Keberanian, kewibawaan, maupun kepemimpinanya menjadi panutan saat itu.

 

Melihat hal tersebut, akhirnya Lasinrang diasingkan ke Bone. Baru setahun di Bone, ia terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone. Selama di Wajo ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matowa Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo.

 

Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan Sawitto semakin hebat, Lasinrang dipanggil pulang oleh ayahnya dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinanya sebagai panglima perang kerajaan Sawitto, senjata yang dipergunakannya adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung yang diberi nama “La Sagala” dan kerisnya diberi nama “Jalloe”.

 

Karena akal bulus Belanda yang menahan ayahnya Addatuang Sawitto dan istrinya I makkan yang membuat Lasinrang menyerahkan diri.

 

Lasinrang menjalani masa pengasingan di Banyumas dan dipulangkan dalam keadaan sakit dan lanjut usia, Lasinrang akhirnya wafat pada tanggal 29 Oktober 1938 dan dimakamkan di Ammasangeng, kabupaten Pinrang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
× Advertisement