Flora Fauna Nasional
Beranda / Nasional / Bencana tak luput menewaskan primata langka endemik Sumatra, Pemerintah didesak jaga ekosistem batang toru sebagai pertahanan terakhir habitat orang utan sumatra

Bencana tak luput menewaskan primata langka endemik Sumatra, Pemerintah didesak jaga ekosistem batang toru sebagai pertahanan terakhir habitat orang utan sumatra

 

Sumatera 18 Desember 2025

Banjir bandang dan longsor yang terjadi di ekosistem Batang Toru tidak hanya jatuh korban manusia juga satwa langka dan dilindungi seperti orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Organisasi masyarakat sipil pun menilai Batang Toru darurat ekologis, dan mendesak serius mitigasi dan jaga ekosistem penting ini.

 

Decky Chandrawan, relawan Tim SAR evakuasi korban banjir dan tanah longsor wilayah Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Tengah (Tapteng), menemukan kera besar itu mati  di Desa Pulo Pakkat, Tapanuli Tengah, 3 Desember. Ia terkubur di bawah tumpukan lumpur dan kayu, di tengah kebun sawit, jauh dari habitat aslinya.

 

Pipa Gas PT TGI meledak, Picu Kebakaran Hebat, Jalan lintas timur JAMBI – RIAU terhambat,

Bangkai primata yang diduga orang utan

 

 

“Namun tangan, kaki, dan sebagian besar organ tubuh masih utuh. Kerusakan paling parah berada di bagian wajah,” katanya.

 

Sayangnya, respons atau keterlibatan lembaga Balai Konservasi Sumber Daya Alam masih lambat. Tim SAR, katanya, tidak dapat mengevakuasi bangkai orangutan itu karena sedang memfokuskan sumber daya untuk menemukan manusia yang hilang.

Mengenal Ekidna, mamalia endemik asli papua yang terancam punah

 

Kondisi ini membuat dia bingung. Tidak ada bantuan paramedis, sementara laporan mayat manusia terus masuk.

 

Temuan BKSDA SUMUT diduga bangkai orang utan Tapanuli yang ikut jadi korban bencana

 

“Bencana datang dari hulu, dari hutan. Seharusnya ada mitigasi satwa segera setelah kejadian. Tapi enggak ada sama sekali yang turun ke lapangan.

Catatan Akhir Tahun : Menjaga Predator Terakhir Penunggu Pulau Jawa

 

Serge Wich, pakar orangutan dari Liverpool John Moores University, Inggris, kepada Mongabay mengonfirmasi bangkai itu orangutan Tapanuli. Pantauan citra satelit yang dia lakukan menunjukkan terjadi longsoran tanah yang begitu luas di dalam hutan tempat tinggal kera besar ini.

 

“Saya memperkirakan ada lebih banyak orangutan yang telah mati. Sangat tidak biasa bahwa begitu banyak longsoran tanah terjadi jauh di dalam hutan dampak dari derasnya hujan lebat ini,”katanya, Sabtu (13/12/25).

 

Dulu, katanya, spesies orangutan ini tersebar luas di Sumatera. Namun, saat ini, ekosistem Batang Toru jadi rumah terakhir mereka.

 

Itu pun, masih terganggu penggunaan lahan yang menyebabkan deforestasi. Mereka tidak aman karena habitat yang makin terfragmentasi.

 

Karena itu, longsor dan banjir yang terjadi di ekosistem mereka akan jadi pukulan demografis telak orangutan tapanuli. Sementara, tingkat reproduksi hewan ini sangat lambat.

 

“Kekhawatiran saat ini adalah bagaimana mencegah dampak lebih lanjut pada spesies dan habitatnya, dan apa yang akan terjadi jika misalnya peristiwa seperti ini terjadi lagi dalam beberapa dekade mendatang.”

 

Panut Hadisiswoyo, Ketua Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), menyebut, bencana ini harus memicu respons mitigasi dari pemerintah dan Kementerian Kehutanan. Tidak hanya untuk manusia, juga satwa yang hidup di habitat terdampak.

 

Bangkai orangutan tapanuli ini, katanya, menandakan kerusakan serius pada habitat Tapanuli, khususnya di blok barat Batang Toru, populasi satwa langka ini. Mereka perkirakan, sekitar 500 individu tersebar di Tapteng dan Tapsel.

 

“Bencana dalam bentuk longsor dan banjir bandang sangat memungkinkan membuat satwa terseret arus. Kemungkinan satwa lain juga menjadi korban sangat tinggi, karena di blok barat ada siamang, orangutan, tapir, beruang madu, hingga harimau Sumatera yang juga berstatus kritis punah.”

 

Banjir bandang dan longsor ini, menurutnya, bukan sekadar akibat hujan ekstrem. Tapi, karena kerusakan hulu dan alih fungsi lahan yang mengurangi daya dukung hutan.

 

Curah hujan di Tapanuli Tengah antara 23-28 November mencapai hampir 700 milimeter. Daya dukung yang rusak memperparah dampaknya.

 

Karena, banyak lahan di daerah aliran sungai (DAS) tengah sudah dibuka untuk perkebunan sawit, tambang emas, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

 

“Tutupan hutannya hilang sebagian besar, sehingga air hujan tidak lagi tertahan. Kombinasi anomali cuaca dan alih fungsi lahan ini memicu banjir bandang dan longsor.”

 

Karena itu penting untuk mengelola ekosistem Batang Toru secara terintegrasi dengan tata ruang nasional. Untuk mencegah bencana serupa terulang, dan mitigasinya lebih efektif.

 

“Intervensi pusat penting untuk menjaga lanskap hutan ini, agar ekosistem terlindungi dan bencana dapat diminimalkan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan kelestarian satwa.”

 

 

Alat berat diturunkan untuk mencari korban longsor di area proyek PLTA Batang Toru.

 

Walhi Sumut, menyebut, penemuan bangkai orangutan Tapanuli menegaskan ekosida di ekosistem Batang Toru. Krisis ekologi serius tengah berlangsung di habitat terakhir orangutan Tapanuli itu.

 

Lokasi penemuan jasad kera besar itu selama ini mengalami tekanan tinggi akibat alih fungsi hutan. Walhi Sumut mencatat ekspansi tambang emas, perkebunan sawit, hutan tanaman industri, aktivitas pembalakan, serta proyek energi telah mempersempit dan memecah habitat satwa itu.

 

Rianda Purba, Direktur Eksekutif Walhi Sumut, mengatakan, kondisi ekosistem Batang Toru saat ini masuk kategori darurat ekologis.

 

“Pemerintah harus menghentikan secara permanen seluruh aktivitas industri ekstraktif di kawasan ini dan mencabut seluruh izin yang merusak.”

 

Kerusakan ekosistem Batang Toru tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, juga memicu bencana ekologis yang berulang di wilayah Tapanuli dan berdampak langsung ke puluhan ribu warga di sana.

 

Mereka sebut situasi ini bentuk ekosida, kejahatan lingkungan yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis, menyebabkan kerusakan parah yang sulit pulih. Identifikasi Walhi, terjadi alih fungsi hutan sekitar 10.795 hektar yang berkaitan dengan aktivitas tujuh perusahaan di ekosistem Batang Toru.

 

“Jika menggunakan asumsi 500 pohon per hektar, maka sekitar 5,4 juta pohon telah hilang akibat alih fungsi hutan tersebut. Ini bukan angka kecil dan dampaknya sangat besar bagi keseimbangan ekosistem.”

 

Padahal, katanya, ekosistem ini penting di Sumatera. Kawasan ini berfungsi sebagai penyangga tata air, pengendali erosi, sekaligus rumah bagi berbagai spesies endemik dan terancam punah, terutama orangutan Tapanuli.

 

Menurut dia, pembukaan hutan di Batang Toru, tidak hanya menghilangkan tutupan vegetasi.

 

“Pembukaan hutan berarti memecah habitat, memutus koridor jelajah satwa, meningkatkan konflik satwa dengan manusia, dan mendorong kerusakan ekologis yang dampaknya meluas jauh melampaui batas konsesi.”

 

Orangutan tapanuli ini ditemukan di kawasan hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sekitar 32 km arah barat dari Batang Toru. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay IndonesiaSetop eksploitasi

 

Dia bilang, kematian orangutan Tapanuli kerugian besar.  Satwa ini berperan penting menjaga regenerasi hutan melalui penyebaran biji.

 

Mereka, kata Rianda, penjaga hutan dan penanam pohon sejati. Kekayaan ekosistem Harangan Tapanuli adalah hasil kontribusi hidup mereka.

 

“Ketika habitatnya dirusak, kita sedang menghancurkan sistem penyangga kehidupan itu sendiri,” ucapnya.

 

Karena itu, Walhi Sumut mendesak pemerintah melakukan sejumlah langkah mendesak. Mulai dari penghentian permanen seluruh aktivitas industri ekstraktif di ekosistem Batang Toru, audit lingkungan yang menyeluruh dan transparan terhadap seluruh izin usaha, hingga penegakan hukum tegas terhadap perusahaan pelanggar.

 

Juga, mendorong kewajiban pemulihan ekosistem di seluruh kawasan yang telah rusak serta penetapan Ekosistem Batang Toru sebagai kawasan strategis nasional untuk perlindungan lingkungan hidup.

 

“Tanpa audit menyeluruh, pencabutan izin, dan sanksi yang nyata, bencana ekologis di Tapanuli akan terus berulang. Warga dan keanekaragaman hayati akan terus menjadi korban.”

 

Senada, Serge Wich mendukung keputusan pemerintah menghentikan pembangunan lanjut di Batang Toru, sampai ada analisis yang cermat ihwal penyebab banjir.

 

Perubahan bentang alam yang signifikan, deforestasi, serta perubahan tanah, katanya, kemungkinan besar memengaruhi dampak tersebut. Perlu Studi kimia yang solid untuk mengetahui dampaknya bagi orangutan Tapanuli jika peristiwa curah hujan ekstrem serupa terjadi lagi dalam beberapa dekade mendatang.

 

“Kami berharap dapat melakukan analisis tersebut,” katanya.

 

Dia berharap,  ada analisis cermat tentang pencegahan atau pengurangan dampak curah hujan ekstrem tersebut bagi masyarakat yang tinggal di sana termasuk Pongo tapanuliensis.

(Dj-Mangobay)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
× Advertisement