Cyberhukum.com – Jakarta
Selamat Jalan Guru Para Presiden! Inilah Jafri Syair, Putra Pesisir Selatan yang pernah Didik Prabowo hingga SBY di Kopassus
Rabu malam (4/2/2026), H. Jafri Syair, sosok purnawirawan Kopassus yang melegenda, mengembuskan napas terakhirnya di usia 84 tahun. Kepergian pria asal Surantih, Kecamatan Sutera ini, menyisakan ruang hampa bagi keluarga besar TNI AD. Ia bukan sekadar prajurit berbaret merah; ia adalah “kawah candradimuka” berjalan yang telah membentuk karakter para jenderal dan presiden yang kini memimpin negeri.
Menembus Belantara Papua atas Mandat Soekarno
Lahir di Surantih pada tahun 1941, Jafri Syair membawa semangat petarung Minang saat memutuskan bergabung dengan RPKAD (sekarang Kopassus) pada tahun 1960. Namanya terukir abadi dalam sejarah Operasi Trikora 1962.
Sebagai prajurit komando muda, ia mengemban tugas maha berat dari Presiden Soekarno: menembus belantara Papua untuk menancapkan Bendera Merah Putih. Keberhasilan misi ini menjadi tonggak sejarah kembalinya Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi, sekaligus mengukuhkan Jafri sebagai salah satu pejuang kedaulatan yang paling berani di masanya.
Mentor bagi Prabowo, SBY, hingga Luhut
Titik balik paling mengesankan dalam kariernya adalah ketika ia ditarik ke Batujajar untuk menjadi instruktur atau Guru Militer (Gumil) pada 1965. Jafri bukan sekadar menggantikan posisi instruktur asing asal Jepang dan Belanda, ia membawa napas tempur asli Indonesia ke dalam kurikulum pendidikan pasukan khusus.
Dari tangan dinginnyalah lahir pemimpin-pemimpin besar. Nama-nama seperti Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Luhut Binsar Pandjaitan pernah menjadi anak didiknya di lapangan. Ketajaman ilmu Jafri bahkan diakui dunia ketika ia dipercaya melatih satu batalyon Tentara Diraja Malaysia pada 1970. Ia bukan hanya guru bagi bangsanya, tapi guru bagi dunia militer Asia.
Cinta Tanpa Syarat untuk Surantih
Meski telah sukses sebagai pengusaha di Bandung setelah masa pensiun, Jafri Syair tidak pernah lupa daratan. Baginya, Pesisir Selatan adalah akar tempatnya pulang. Ia membuktikan cintanya melalui aksi nyata:
- Menghibahkan lahan 8.000 meter persegi untuk pembangunan kantor Camat Sutera.
- Menjadi aktor di balik berdirinya SMA Negeri 1 Sutera.
- Membina dan membangun puluhan masjid serta pesantren di kampung halamannya.
Penghormatan Terakhir Sang Patriot
Almarhum dimakamkan pada Kamis (5/2/2026) di DT Memorial Park, Bandung Barat, dengan penghormatan militer. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun warisannya abadi.
Setiap kali kita melihat kepemimpinan Prabowo atau mengenang era SBY, di sana ada jejak didikan Jafri Syair. Dari Surantih ia melangkah, ke Papua ia berjuang, dan melalui murid-muridnya, ia menjaga Indonesia selamanya.
Selamat jalan, Sang Patriot. Tugasmu telah usai dengan paripurna.
Sumber: Bandasapuluah

Komentar