Flora Fauna
Beranda / Flora Fauna / Mengenal Ekidna, mamalia endemik asli papua yang terancam punah

Mengenal Ekidna, mamalia endemik asli papua yang terancam punah

 

Ekidna di Papua adalah jenis Zaglossus bruijini.

 

  • Ekidna (nokdiak atau babi duri) menjadi satwa endemik Papua yang terancam punah. Ia berduri seperti landak, bergulung seperti trenggiling dan berhidung mirip babi.
  • Ia menjadi penghuni asli hutan Papua yang terancam perburuan dan rusaknya habitat. Ada empat jenis ekidna di dunia yang tersebar di kawasan Papua, Papua Nugini dan Australia.
  • Jenis spesies ekidna di Papua adalah jenis Zaglossus bruijini.Ekidna termasuk mamalia bertelur yang tak memiliki puting. Tapi ekidna betina akan bertelur, mengeraminya, dan menyusui anaknya.
  • Tak hanya itu, ekidna juga memiliki perilaku unik serta memiliki sensor listrik pada moncongnya.
  • Masyarakat Papua memiliki tradisi yang beragam dalam menjaga ekidna. Di Pegunungan Cyclops, ia menjadi satwa keramat sehingga ada larangan berburu. Sedangkan di Sorong, banyak masyarakat menjadikan ekidna sebagai ikon ekowisata.

 

 

 

Catatan Akhir Tahun : Menjaga Predator Terakhir Penunggu Pulau Jawa

 

 

Ekidna (nokdiak atau babi duri) menjadi satwa endemik Papua yang terancam punah

Ekidna ikon wisata yang terancam punah

Cyberhukum – Sebagai satwa nokturnal, ekidna banyak dijumpai di daerah dataran tinggi. Perburuan dan degradasi habitat menjadi ancaman bagi satwa ini.

 

Bencana tak luput menewaskan primata langka endemik Sumatra, Pemerintah didesak jaga ekosistem batang toru sebagai pertahanan terakhir habitat orang utan sumatra

Di Lembah Klaso, Kabupaten Sorong, tepatnya di Kampung Klalik, ekidna malahan menjadi ikon ekowisata mereka. Warga Klalik melestarikannya dengan menginisiasi ekowisata.

 

Sejak 2017, para pemuda kampung menyadari bahwa ekowisata mamalia ini bisa menjadi unik dan berbeda dari wilayah lainnya. Meski begitu, perjuangan Isai Onesimus Paa, salah satu pemuda setempat ,untuk meyakinkan ekowisata tidak mudah. Banyak tetua kampung menganggap idenya tidak masuk akal karena Kampung Klalik berada di area terpencil yang sulit dikunjungi wisatawan.

 

Namun, Ones tidak patah semangat, selama bertahun-tahun dia coba menyakinkan warga kampung Klalik bahwa ekowisata dapat memberikan peningkatan ekonomi bagi warga. Hingga pada 2023, ide dari pemuda kampung pun berhasil. Klalik Echidna Park pun resmi berdiri, wisatawan mulai berdatangan dan ekonomi warga meningkat.

Jejak Cinta untuk Satwa: Mengenang Perjuangan Almarhum Om Ron dan Om Steve

 

Setelah hilang dari pengamatan selama lebih dari 60 tahun, nokdiak moncong-panjang Sir David akhirnya terekam kembali

 

Jejak ekidna terekam di kawasan Pegunungan Cyclops, Papua, yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi. Bagi masyarakat di sekitar kawasan pegunungan Cyclops, ekidna bukan hanya sekadar satwa biasa. Ia menjadi satwa keramat yang kedudukannya di hutan dihormati layaknya raja.

 

Di tempat keramat masyarakat adat yang berada di kawasan hutan Cyclops, seseorang dilarang untuk bersuara terlalu keras atau menciptakan suasana yang bikin gaduh. Tak hanya itu, masyarakat adat memiliki aturan ketat agar ekidna dan satwa-satwa terancam punah lainnya di Cyclops tetap lestari.

 

Nilai-nilai adat, seperti larangan berburu dan larangan menebang pohon di zona tertentu yang dianggap “keramat” atau sakral. Praktik ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tapi juga berfungsi sebagai bentuk konservasi ekologis yang efektif.

 

Kawasan larangan itu sering kali menjadi benteng terakhir bagi spesies-spesies endemik Papua. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan adat bukan sekadar pelengkap, tetapi komponen penting dalam strategi konservasi berbasis komunitas.

Mamalia bertelur yang tidak punya puting susu

Ekidna moncong panjang barat (Zaglossus bruijnii) satwa unik yang ada di hutan Klalik. Satwa ini aktif di malam hari untuk mencari makan seperti serangga dan cacing (nokturnal). Keunikannya meski mamalia, tetapi satwa ini bertelur.

 

Hal yang paling unik dari ekidna, tentunya caranya berkembang biak dengan bertelur meskipun termasuk jenis mamalia. Saat musim bertelur tiba, ekidna betina hanya menghasilkan satu butir telur dan menyimpannya di dalam kantung tubuhnya. Telur akan menetas setelah sepuluh hari dierami.

 

Tak seperti mamalia lainnya yang memiliki puting susu, ekidna menyusui anaknya dengan cara bereda. Anak ekidna atau disebut puggle yang baru menetas, menghisap susu induknya dari pori-pori kelenjar khusus yang berada di dalam kantongnya.

 

Ekidna menggali lubang untuk anaknya

Ekidna suka tinggal di lubang-lubang kayu atau tanah untuk menghindari predator.

 

Menurut Natural History Museum, induk ekidna akan menggali lubang untuk meletakkan anaknya. Setelah lima bulan menetas, anak ekidna menghabiskan sebagian besar waktunya di lubang bawah tanah. Meski bentuknya yang terlihat besar, ekidna bisa membuat lubang kecil dan masuk ke dalamnya.

 

Di sana, mereka tetap aman dan tersembunyi dari para predator. Sementara itu, induknya mencari makanan dan kembali setiap 3 sampai 6 hari.

 

Setelah anaknya mencapai usia 7 bulan dan sudah mulai memakan serangga, induknya tidak kembali dan akan membiarkan anak-anaknya untuk tumbuh mandiri.

Ekidna menyimpan rahasia anatomi yang jarang diketahui, yakni penisnya bercabang empat. Menurut peneliti dari University of Melbourne, penis ekidna yang bercabang empat sebenarnya kelenjar berbentuk roset di ujungnya. Hanya dua dari keempat kelenjar yang berfungsi selama ereksi dan kelenjar lainnya akan bergantian untuk ereksi.

 

Pembuluh darah utama penis juga terbagi menjadi empat cabang mengikuti percabangan uretra. Artinya, ujung penis ekidna berfungsi seperti dua sisi yang berbeda atau terpisah. Hal ini memungkinkan ekidna mengontrol ereksi pada salah satu sisi dan membuka cabang uretra yang sesuai untuk melakukan reproduksi.

 

Selain keunikan itu, ekidna menjadi satwa daratan yang diketahui memiliki kemampuan untuk mendeteksi medan listrik. Ekidna paruh panjang barat [(Zaglossus bruijni) memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan ekidna paruh pendek (Tachyglossus aculeatus).

 

Meski mereka bisa mendeteksi medan listrik, tapi paruh ekidna hanya efektif mendeteksinya di tanah yang lembab atau air dan tidak di udara. Dibanding platypus, kemampuan deteksi medan listrik yang dimiliki ekidna lebih rendah.

(Dj-mangobay)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
× Advertisement