Cyberhukum – sehari setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengangkat Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden. Hari itu juga, delapan provinsi pertama Indonesia ditentukan.

Ketika itu, bekas tentara Pembela Tanah Air (Peta) dan Heiho (orang Indonesia yang masuk tentara Jepang) telah dibubarkan dan dilucuti senjatanya oleh Jepang. Hanya polisi yang masih memiliki senjata.
Pada saat kabinet dibentuk, para pemuda polisi dari Tokubetsu Keisatsutai (pasukan polisi istimewa) merasa perlu ada pengawalan bagi Presiden. Pembantu Inspektur Mangil beserta delapan polisi pun mengajukan diri untuk mengawal Bung Karno.

Tim ini pula yang kemudian melakukan operasi penyelamatan Bung Karno dari Jakarta ke Yogyakarta pada tanggal 3-4 Januari 1946 dengan menggunakan kereta luar biasa. Keberhasilan operasi ini kemudian dikenang sebagai hari lahir Paspampres.
1946
DETASEMEN KAWAL PRIBADI
Pada masa pemerintahan Soekarno, satuan pengawal khusus presiden bernama Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Anggotanya berasal dari satuan polisi istimewa. DKP dalam baktinya berhasil mengamankan Presiden Soekarno dari beberapa upaya pembunuhan.
Beberapa contohnya yakni saat Presiden Soekarno dijadwalkan untuk berpidato di Makassar pada Januari 1962 dan penembakan ketika presiden soekarno sedang shalat idul adha di istana negara. Dalam dua peristiwa itu, sejumlah personel DKP mengorbankan diri mereka sebagai perisai hidup Presiden.
Detasemen Kawal Pribadi
1962
RESIMEN TJAKRABIRAWA
Setelah berbagai upaya pembunuhan Presiden Soekarno dilancarkan oleh sejumlah kelompok, keamanan Presiden saat itu pun kian mengkhawatirkan. Atas usul Menkohankam/KASAB (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) Jenderal AH Nasution, Presiden akhirnya membentuk sebuah pasukan yang secara khusus bertugas untuk menjaga keamanan dan keselamatan jiwa kepala negara beserta keluarganya.
Resimen Tjakrabirawa
Pasukan khusus tersebut dikenal dengan Resimen Tjakrabirawa. Nama Tjakrabirawa diambil dari nama senjata pamungkas milik Batara Kresna yang dalam lakon wayang purwa digunakan sebagai senjata penumpas semua kejahatan.
Kemudian, bertepatan dengan hari ulang tahun Bung Karno, 6 Juni 1962, dibentuklah kesatuan khusus Resimen Tjakrabirawa dengan SK Nomor 211/PLT/1962. Pada awalnya, Resimen Tjakrabirawa hanya terdiri dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP), yang saat itu di bawah pimpinan Komisaris Besar Polisi Mangil Martowidjoyo.
Tjakrabirawa menjadi satuan yang dipilih dari anggota-anggota terbaik dari empat angkatan, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian yang masing-masing terdiri dari satu batalyon. Saat itu, Resimen Tjakrabirawa dipimpin oleh Komandan Brigadir Jenderal Moh Sabur dengan wakilnya, Kolonel CPM Maulwi Salean
Sumber : Arsip nasional

Komentar